Menakar Kadar Keikhlasan Generasi Muda

Hari Raya Idul Adha selalu identik dengan penyembelihan hewan kurban. Namun, di era digital di mana hampir setiap jengkal aktivitas manusia bertransformasi menjadi konten, ibadah yang sakral ini menghadapi tantangan maknawi yang cukup serius: budaya flexing atau pamer di media sosial.

Sebagai pelajar dan generasi muda yang hidup di dalamnya, kita perlu mengajukan pertanyaan reflektif: ketika kamera gawai lebih cepat membidik hewan kurban daripada niat di dalam hati, di manakah posisi keikhlasan yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim AS?

Pergeseran Makna: Antara Ibadah dan Konten

Tidak ada yang salah dengan mendokumentasikan kegiatan positif. Membagikan momen penyembelihan atau distribusi daging kurban di media sosial bisa menjadi syiar yang baik untuk menginspirasi orang lain. Namun, garis batas antara “syiar” dan “ria” (pamer) hari ini menjadi sangat tipis.

Ketika fokus utama bergeser pada seberapa besar ukuran hewan yang dibeli, seberapa mahal harganya, atau seberapa banyak jumlah pemirsa yang menyukai unggahan tersebut, esensi kurban yang berarti “mendekatkan diri” kepada Allah perlahan mengalami reduksi. Kurban jangan sampai terjebak menjadi sekadar ajang unjuk status sosial atau validasi digital di lini masa.

Meneladani Ibrahim di Ruang Digital

Inti dari kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail bukan terletak pada fisik kurbannya, melainkan pada ketundukan ego, kepatuhan mutlak, dan pelepasan atas kepemilikan duniawi. Hewan kurban yang disembelih pada dasarnya adalah simbol penyembelihan sifat-sifat kebinatangan dalam diri manusia—seperti ketakaburan, keserakahan, dan keinginan untuk dipuji.

Bagi pelajar modern, “menyembelih” ego di ruang digital bisa dimulai dengan menata ulang niat. Memposting esensi kemanusiaan, gotong royong, dan kebahagiaan para penerima manfaat jauh lebih esensial daripada sekadar memamerkan kepemilikan.

Penutup: Kurban yang Mengakar

Mari jadikan Idul Adha 1447 H ini sebagai momentum untuk melakukan detoksifikasi hati. Pelajar Muhammadiyah harus mampu menjadi pembeda di tengah riuhnya budaya pamer. Kebesaran ibadah kurban tidak diukur dari jumlah likes atau komentar di media sosial, melainkan dari seberapa dalam nilai kemanusiaan dan keikhlasan itu meresap ke dalam jiwa kita masing-masing.

Oleh: Kader IPM Lampung

admin
admin
2 posts

#

Rumah
Karya Pelajar

Profil

Menu Test 1

Menu Test 2

Menu Test 3

Menu Test 3

Direktori

Menu Test 1

Menu Test 2

Menu Test 3

Menu Test 3

Seputar IPM

Menu Test 1

Menu Test 2

Menu Test 3

Menu Test 3

©2026 Pimpinan Wilayah IPM Lampung | dikelola oleh Lembaga Media dan Komunikasi Pimpinan Wilayah IPM Lampung