Ketika Persoalan Remaja Semakin Kompleks, Di m­­ana Peran IPM?

Oleh: Anas Nur Fathoni

Indonesia saat ini sedang menikmati bonus demografi. Jumlah penduduk usia produktif yang besar sering disebut sebagai peluang emas untuk mewujudkan Indonesia yang lebih maju di masa depan.

Namun, di balik optimisme tersebut, terdapat berbagai persoalan yang terus menghantui kehidupan remaja. Kasus perundungan di sekolah masih terjadi. Kekerasan seksual terhadap anak dan remaja masih menjadi ancaman nyata. Krisis kesehatan mental semakin banyak dialami ­­­­­pelajar. Belum lagi persoalan penyalahgunaan narkoba, rendahnya literasi digital, hingga budaya saling menghakimi yang tumbuh subur di media sosial. Ironisnya, berbagai persoalan tersebut hadir di ruang yang setiap hari dihuni oleh para pelajar. Di kelas, di lingkungan sekolah, di organisasi, bahkan dalam lingkaran pertemanan mereka sendiri.

Sebenarnya, siapa yang seharusnya hadir untuk menjawab berbagai persoalan tersebut?

Banyak pihak tentu memiliki peran. Keluarga, sekolah, pemerintah, maupun komunitas kepemudaan. Namun jika berbicara mengenai pelajar, rasanya sulit untuk tidak menempatkan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) sebagai salah satu aktor yang seharusnya berada di garis depan. Sebagai organisasi pelajar terbesar di lingkungan Muhammadiyah, IPM memiliki kekuatan yang luar biasa. Jaringannya tersebar dari tingkat pusat hingga ranting di sekolah-sekolah. Basis kadernya sangat besar. Bahkan dapat dikatakan bahwa IPM memiliki kedekatan yang sangat kuat dengan kehidupan pelajar sehari-hari.

Namun, pertanyaan yang perlu kita renungkan bersama adalah, sudahkah kekuatan besar tersebut benar-benar digunakan untuk menjawab persoalan nyata yang sedang dihadapi remaja?

Antara Potensi dan Realitas

Sebagai seorang kader IPM, dari ruang ruang diskusi saya melihat bahwa organisasi ini memiliki modal yang sangat besar untuk menjadi pelopor gerakan advokasi remaja. IPM memiliki kader-kader muda yang kritis, progresif, dan dekat dengan kehidupan pelajar. Struktur organisasinya pun memungkinkan berbagai program dijalankan hingga tingkat akar rumput. Sayangnya, dalam banyak kesempatan, gerakan IPM masih lebih dikenal melalui kegiatan-kegiatan seremonial dibandingkan melalui dampak sosial yang dirasakan langsung oleh pelajar seakan pelajar hanya dijadikan objek saja.

Banyak ranting yang berhasil menyelenggarakan seminar, lomba, kajian, maupun berbagai kegiatan pengembangan diri lainnya. Namun, ketika berbicara tentang persoalan bullying, kesehatan mental, kekerasan seksual, atau perlindungan hak-hak pelajar, suara IPM masih belum terdengar sekuat yang seharusnya. Padahal, persoalan-persoalan tersebut terjadi setiap hari di lingkungan yang menjadi ruang gerak utama IPM. Inilah yang menurut saya perlu menjadi bahan refleksi bersama.

Ranting Sebagai Titik Krusial Perubahan

Jika ingin menghadirkan dampak yang lebih nyata, maka perhatian utama harus diarahkan kepada ranting. Ranting bukan sekadar struktur organisasi paling bawah. Ranting adalah ruang tempat pelajar bertemu dengan realitas kehidupan mereka sehari-hari.

Di tingkat rantinglah perundungan terjadi. Di tingkat rantinglah siswa yang mengalami tekanan mental membutuhkan teman untuk bercerita. Di tingkat ranting pula berbagai persoalan remaja muncul dan berkembang.

Karena itu, keberadaan bidang di IPM yang membidangi advokasi pelajar tidak boleh hanya menjadi pelengkap struktur organisasi. Bidang ini harus menjadi jantung gerakan yang benar-benar hidup di sekolah. IPM perlu mulai memikirkan bagaimana menciptakan kader-kader yang memiliki kemampuan mendengar, mendampingi, dan mengadvokasi teman sebayanya. Sebab sering kali remaja lebih nyaman berbicara kepada teman sebayanya dibandingkan kepada orang yang lebih dewasa.

Belajar dari Mereka yang Sudah Bergerak

Dalam upaya memperkuat gerakan advokasi remaja, IPM tentu tidak harus berjalan sendiri. Ada banyak pihak yang selama ini telah memiliki pengalaman dan praktik baik dalam mendampingi remaja, salah satunya adalah para Duta GenRe yang vokal untuk menyebarkan vitamin-vitamin genre dan merupakan program strategis dari Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (KEMENDUKBANGGA) / BKKBN dalam upayanya menciptakan generasi muda yang terencana, serta komunitas-komunitas yang bergerak dalam edukasi serta advokasi remaja.

Selama ini, berbagai isu seperti pencegahan bullying, kesehatan mental, relasi sehat, pencegahan kekerasan seksual, hingga pengembangan keterampilan hidup telah cukup intens disuarakan oleh mereka melalui berbagai pendekatan yang dekat dengan generasi muda.

Kolaborasi bukan berarti kehilangan identitas organisasi. Sebaliknya, kolaborasi adalah bentuk kedewasaan gerakan. IPM dapat tetap berdiri dengan nilai dan karakternya sendiri, namun pada saat yang sama membuka ruang sinergi dengan pihak-pihak yang memiliki pengalaman dalam penguatan kapasitas remaja. Bayangkan apabila setiap ranting IPM mampu berkolaborasi dengan berbagai komunitas advokasi remaja di daerahnya. Bukan tidak mungkin sekolah akan memiliki lebih banyak ruang aman, lebih banyak kader yang peka terhadap persoalan teman-temannya, dan lebih banyak gerakan yang benar-benar menyentuh kebutuhan pelajar.

Dari Organisasi Kegiatan Ceremonial Menjadi Organisasi Berdampak

Sudah saatnya ukuran keberhasilan organisasi tidak hanya dilihat dari banyaknya agenda yang berhasil dilaksanakan. Keberhasilan organisasi seharusnya diukur dari perubahan yang berhasil dihadirkan. Bukan sekadar berapa banyak seminar yang terlaksana, tetapi berapa banyak pelajar yang terbantu. Bukan sekadar berapa banyak kegiatan yang didokumentasikan, tetapi berapa banyak persoalan yang berhasil diselesaikan. Bukan sekadar berapa banyak peserta yang hadir, tetapi berapa banyak kehidupan yang menjadi lebih baik karena kehadiran organisasi.

Ketika paradigma ini mulai tumbuh, maka IPM akan bergerak dari organisasi yang berorientasi pada kegiatan ceremonial menuju organisasi yang berorientasi pada keberdampakan.

Sebagai kader IPM, saya meyakini bahwa organisasi ini memiliki seluruh modal yang dibutuhkan untuk menjadi salah satu kekuatan terbesar dalam menjawab persoalan remaja Indonesia. Jaringan yang luas, kader yang besar, serta kedekatan dengan pelajar merupakan keunggulan yang tidak dimiliki banyak organisasi lain. Namun, potensi tersebut hanya akan menjadi angka apabila tidak diterjemahkan menjadi gerakan yang nyata.

Karena itu, tantangan IPM hari ini bukanlah bagaimana membuat lebih banyak kegiatan, melainkan bagaimana memastikan organisasi ini benar-benar hadir di tengah persoalan pelajar. Sebab pada akhirnya, organisasi pelajar yang hebat bukanlah organisasi yang paling ramai kegiatannya, melainkan organisasi yang paling dirasakan manfaatnya oleh pelajar.

Dan ketika hari itu tiba, IPM tidak hanya akan dikenal sebagai organisasi pelajar terbesar di Muhammadiyah, tetapi juga sebagai rumah yang mampu mendengar, mendampingi, dan memperjuangkan kebutuhan remaja di zamannya.

IPM Lampung
IPM Lampung
9 posts

#

Rumah
Karya Pelajar

©2026 Pimpinan Wilayah IPM Lampung | dikelola oleh Lembaga Media dan Komunikasi Pimpinan Wilayah IPM Lampung