HUT RI KE-81: KEMERDEKAAN HARUS BERPIHAK PADA PELAJAR

Ketua Umum Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah Lampung Agustiar Rinaldi A.

Kemerdekaan Republik Indonesia yang kini memasuki usia ke-81 bukan hanya tentang mengenang perjuangan para pendahulu dalam merebut kemerdekaan, tetapi juga tentang memastikan bahwa kemerdekaan benar-benar dirasakan oleh setiap generasi. Kemerdekaan harus menjadi ruang bagi setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas, mengembangkan potensi, menyampaikan gagasan, dan mengambil bagian dalam menentukan masa depan bangsa. Bagi pelajar, kemerdekaan bukan sekadar warisan sejarah, melainkan kesempatan untuk tumbuh menjadi generasi yang mampu membaca zaman, menjawab persoalan, dan menghadirkan perubahan.

Hari ini, pelajar Indonesia hidup dalam situasi yang jauh berbeda dengan generasi sebelumnya. Perkembangan teknologi, derasnya arus informasi, perubahan sosial, persoalan lingkungan, hingga dinamika demokrasi menghadirkan tantangan yang semakin kompleks. Pelajar tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi dan konsumen informasi, tetapi harus memiliki kemampuan untuk memahami persoalan, berpikir kritis, membangun pengetahuan, dan mengubahnya menjadi karya yang memberikan manfaat.

Salah satu persoalan yang masih perlu mendapatkan perhatian serius adalah kualitas literasi dan kesempatan pelajar untuk memperoleh pendidikan yang bermutu dan setara.

Data Rapor Pendidikan menunjukkan bahwa proporsi murid yang mencapai kompetensi minimum literasi memang terus mengalami peningkatan, dari 59,49% pada 2022 menjadi 68,05% pada 2023 dan 70,03% pada 2024. Artinya, terdapat kemajuan yang patut diapresiasi. Namun, pada 2024 masih terdapat sekitar 29,97% murid yang belum mencapai kompetensi minimum literasi, dan peningkatan tersebut juga belum merata di seluruh kabupaten dan kota di Indonesia.

Persoalan tersebut tidak berhenti pada kemampuan membaca secara teknis. Literasi hari ini harus dimaknai sebagai kemampuan memahami informasi, membedakan fakta dan opini, berpikir kritis, melakukan riset, membaca realitas sosial, serta menggunakan pengetahuan untuk menyelesaikan persoalan.

Tantangan kesempatan memperoleh pendidikan juga masih nyata. Rapor Pendidikan 2025 menunjukkan bahwa Angka Partisipasi Sekolah usia 7–15 tahun relatif tinggi, tetapi partisipasi pada usia 16–18 tahun masih lebih rendah, sementara kelompok penyandang disabilitas usia 4–18 tahun juga menghadapi tingkat partisipasi yang lebih rendah. Pemerintah sendiri menempatkan angka partisipasi sekolah, literasi, numerasi, iklim keamanan, kebinekaan, dan inklusivitas sebagai indikator penting dalam melihat mutu layanan pendidikan.

Data tersebut memberi pesan sederhana: kemerdekaan pendidikan belum selesai.

Kita tidak hanya perlu memastikan pelajar bisa masuk sekolah, tetapi juga memastikan mereka mendapatkan proses pendidikan yang berkualitas, lingkungan belajar yang aman dan inklusif, ruang untuk berpikir, serta kesempatan untuk mengembangkan potensi.

Karena itu, bagi kami, memperjuangkan pelajar berarti memperjuangkan masa depan Indonesia.

“PELAJAR INKLUSIF, UNGGUL BERKARYA”

Dalam membaca persoalan tersebut, “Pelajar Inklusif, Unggul Berkarya” bukan tagline yang lahir karena momentum HUT RI ke-81. Tagline ini telah menjadi arah gerakan PW IPM Lampung sejak awal periode sebagai hasil pembacaan terhadap kebutuhan pelajar dan tantangan zaman.

Pelajar Inklusif berarti memastikan setiap pelajar memiliki ruang untuk tumbuh, berpartisipasi, dan dihargai dalam keberagaman.

Pelajar Unggul berarti membangun kapasitas pelajar melalui literasi, karakter, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kepemimpinan, dan kecakapan menghadapi perubahan.

Pelajar Berkarya berarti mendorong pengetahuan dan potensi pelajar untuk diwujudkan menjadi gagasan, riset, inovasi, tulisan, kreativitas, maupun aksi nyata yang memberikan manfaat.

Dengan demikian, “Pelajar Inklusif, Unggul Berkarya” bukan sekadar slogan, tetapi arah gerakan yang sejak awal telah dipersiapkan untuk menjawab kebutuhan pelajar hari ini dan masa depan.

MENERJEMAHKAN GAGASAN MENJADI GERAKAN

Arah tersebut kemudian diterjemahkan PW IPM Lampung melalui sejumlah program unggulan pada periode ini.

Pertama, Eco Smart School (Bidang Lingkungan Hidup).

Eco Smart School merupakan program yang mendorong sekolah menjadi ruang pendidikan yang peduli lingkungan sekaligus adaptif terhadap perkembangan teknologi. Program ini mengajak pelajar mengenali persoalan lingkungan di sekitarnya, membangun kesadaran, serta mencari solusi melalui kreativitas, inovasi, pemanfaatan teknologi, dan aksi nyata. Eco Smart School diarahkan menjadi ekosistem pembelajaran berkelanjutan yang menghubungkan pengetahuan, kepedulian, dan tindakan. Dengan demikian, program ini menjadi wujud semangat “Pelajar Inklusif, Unggul Berkarya” melalui pelajar yang peduli, inovatif, dan mampu menghasilkan karya untuk lingkungan.

Kedua, Madrasah Demokrasi (Bidang Advokasi).

Madrasah Demokrasi merupakan program yang menjadi ruang pembelajaran bagi pelajar untuk memahami sekaligus mempraktikkan nilai-nilai demokrasi dalam kehidupan sehari-hari. Program ini mendorong pelajar memiliki keberanian menyampaikan pendapat, berdialog, bermusyawarah, menghargai perbedaan, serta memahami hak dan kewajibannya. Pembelajaran demokrasi dikembangkan melalui diskusi, kajian, simulasi, kepemimpinan, dan praktik partisipasi di lingkungan sekolah maupun organisasi. Madrasah Demokrasi diarahkan menjadi ekosistem pembelajaran demokrasi pelajar yang menumbuhkan sikap kritis, inklusif, dan bertanggung jawab. Dengan demikian, program ini menjadi wujud semangat “Pelajar Inklusif, Unggul Berkarya” melalui pelajar yang mampu bersuara, menghargai perbedaan, dan berpartisipasi dalam kehidupan demokrasi.

Ketiga, Gerakan PRISMA (Bidang Pengkajian Ilmu Pengetahuan).

Gerakan PRISMA merupakan program yang hadir untuk menjawab tantangan literasi pelajar di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan digital. PRISMA tidak hanya mendorong kader membaca, tetapi juga memahami persoalan, melakukan riset, berpikir kritis, menulis, berdiskusi, dan menyebarluaskan pengetahuan secara sederhana. Pengkajian isu lokal, nasional, hingga global dikemas melalui majalah digital sebagai ruang belajar sekaligus arsip pengetahuan bagi kader IPM. PRISMA diarahkan menjadi ekosistem intelektual pelajar yang mengubah informasi menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi gagasan, dan gagasan menjadi karya yang berdampak. Dengan demikian, program ini menjadi wujud semangat “Pelajar Inklusif, Unggul Berkarya” melalui pelajar yang literat, kritis, adaptif, dan produktif dalam menghasilkan pengetahuan.

Ketiga program tersebut menunjukkan bahwa IPM Lampung tidak ingin sekadar berbicara tentang masa depan pelajar, tetapi mulai menyiapkan ekosistemnya sejak hari ini. Eco Smart School menjawab kebutuhan pelajar terhadap kepedulian lingkungan dan inovasi, Madrasah Demokrasi menjawab kebutuhan terhadap ruang partisipasi dan pendidikan demokrasi, sementara PRISMA menjawab kebutuhan terhadap budaya literasi, riset, dan pengembangan intelektual.

Ketiganya memiliki satu tujuan: mendorong pelajar agar tidak hanya menjadi objek perubahan, tetapi menjadi subjek yang mampu membaca persoalan, membangun gagasan, dan menghadirkan solusi.

KEMERDEKAAN YANG BERPIHAK PADA PELAJAR

Memasuki usia kemerdekaan yang ke-81, Indonesia perlu kembali bertanya: sudah sejauh mana pembangunan memberikan ruang bagi pelajar untuk menentukan masa depannya?

Keberpihakan kepada pelajar tidak cukup diwujudkan melalui seremoni atau kebijakan yang hanya menempatkan pelajar sebagai penerima manfaat. Pelajar harus ditempatkan sebagai subjek pembangunan yang memiliki suara, gagasan, kreativitas, dan kemampuan untuk ikut menentukan arah bangsa.

Kami berharap Indonesia ke depan semakin serius menghadirkan pendidikan yang berkualitas dan merata, memperkuat budaya literasi dan riset, menyediakan ruang kreativitas dan partisipasi, memperluas akses teknologi secara inklusif, serta membangun lingkungan belajar yang aman dan menghargai keberagaman.

Lebih dari itu, kami berharap setiap kebijakan yang menyangkut masa depan pendidikan benar-benar mendengarkan suara pelajar.

Sebab ketika negara berpihak kepada pelajar, sesungguhnya negara sedang berpihak kepada masa depan Indonesia.

CLOSING STATEMENT KETUA UMUM PW IPM LAMPUNG

“Kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh para pendahulu tidak boleh berhenti sebagai cerita sejarah yang kita rayakan setiap tahun. Kemerdekaan harus kita lanjutkan dengan memastikan setiap pelajar memiliki kesempatan untuk belajar, bertumbuh, bersuara, dan berkarya.

Indonesia ke depan tidak hanya membutuhkan generasi penerus, tetapi membutuhkan generasi yang sejak hari ini diberikan ruang untuk menjadi bagian dari perubahan.

Karena itu, kami berharap keberpihakan terhadap pelajar menjadi salah satu agenda penting pembangunan Indonesia. Berikan pelajar pendidikan yang berkualitas, ruang untuk berpikir, ruang untuk berpendapat, ruang untuk berkreasi, dan ruang untuk menghasilkan karya.

IPM Lampung akan terus mengambil bagian dalam perjuangan tersebut. Kami percaya bahwa pelajar bukan sekadar objek pembangunan, tetapi merupakan subjek yang memiliki gagasan, kreativitas, dan kekuatan untuk menentukan masa depan bangsa.

Masa depan Indonesia tidak dimulai nanti. Masa depan Indonesia sedang tumbuh hari ini di ruang-ruang belajar, di sekolah, di organisasi, dan di tangan para pelajar.

Maka, mari kita maknai kemerdekaan dengan memberikan keberpihakan yang lebih nyata kepada pelajar.

Pelajar Inklusif, Unggul Berkarya.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-81. Merdeka!”


IPM Lampung
IPM Lampung
10 posts

#

Rumah
Karya Pelajar

©2026 Pimpinan Wilayah IPM Lampung | dikelola oleh Lembaga Media dan Komunikasi Pimpinan Wilayah IPM Lampung